Aku tak harus jadi orang munafik, pura2 bersyukur bahwa apapun rupaku –tak peduli apapun jasadnya-rupawan, tampan, bagus, indah, cantik,menawan dan apapun itu. Aku tak bisa menutupi kejujuran bahwa setiap kali aku memandang cermin, terpantulah satu kata : JELEK!.
Itu benar apa adanya, selain kulitku yang warnanya sperti warna buah sawo terlalu mateng , dekil, ceking, rambutnya ikal susah diatur, jidatnya lebar, jerawatan, berhidung pesek dan ompong. Hanya orang buta yang paling akut yg mau mengatakan aku tampan.
Aku selalu mengelus dada dan segera mengingat apa kata2 pepatah, kata2 teman dekat, kata2 orang yang mengaku dirinya faham terhadap masalah keterjelekan, yakni : YG PENTING INNER BEAUTY!.
Aku setuju hal itu meski tak sepenuhnya ,karena secantik2nya jiwa , raga tetep jadi penopang. Aku benci Pada teman2 dekat yang ketika aku mengeluh selalu bilang aku RUPAWAN ( toh kelihatan jelas mereka mengatakannya dengan setengah hati , hanya untuk tidak menyakiti perasaanku).
Jadi orang JELEK banyak ruginya. waktu SD, aku – yg begitu lihai menari- terpaksa tidak dipilih oleh pelatih tari untuk dijadikan penari acara samenan (kenaikan kelas) lantaran mukaku jelek dan tidak menarik. Begitu pun waktu SMP- aku yang sudah mengorbankan diri untuk berjingkrak-jingkrak dan mengacungkan tangan dalam seleksi TEAM LOMBA GERAK JALAN, di acuhkan begitu saja dengan satu alasan itu : JELEK. Yang lebih tidak adil lagi (meski saat itu aku tidak tahu apa artinya ADIL), aku selalu hanya kebagian AMPAU lebaran paling sedikit hanya karna – lagi2- aku jelek.
Jadi seorang yang jelek merupakan beban tersendiri di kehidupan abad modern ini, fakta pertama sangat jelas bahwa pekerjaan apapun selalu memerlukan syarat utama lewat penampilan, jadi sudah tidak dirakukan lagi bahwa aku mengalami berbagai penolakan saat melamar pekerjaaan. L
Fakta kedua , fakta yang sangat teramat mengiris hati, fakta yang akan dimengerti oleh setiap manusia diseluruh dunia, fakta paling sensitive : CINTA.
Cinta itu buta , itulah kata sang pepatah dan sayangnya aku bukanlah penggemar berat sang pepatah tersebut. Entah kenapa cinta yang kukenal itu melotot! Tak pernah berhenti melek, tak pernah sepersekian detik pun merem . keterjelekanku sperti selalu di scan dan diintai sedetail2nya oleh CINTA. Cinta selalu saja memberikan syarat absolute terberat yang harus aku penuhi yakni wajah rupawan. Karna aku tidak memiliki hal tersebut maka sudah bisa ditebak banyak kisah2 sadis bergulir menerpaku ketika kukatakan kata cinta. Aku tak sanggup menuliskannya satu persatu, terlalu perih untuk dikenang. Tapi satu saja- cukup satu saja-akan kuceritakan salah satu kisah sadis yang paling rendah kadar kesadisannya.
Pada suatu hari, ku selipkan secarik kertas diloker kerja seseorang yang bertuliskan kata2 mutiara cinta ,yang berbunyi :
“sepertinya ada zat kimia aneh dalam diriku yang bereaksi ketika aku menatapmu, aku yakin zat kimia itu adalah semacam cinta. Ai lop yu tak terkira”
4x4 =16 sempat ga sempat mohon dibalas
Sae puloh”
Sejam aku menunggu, disudut diseberang lokernya mengintip dibalik Koran. Seribu perasaan menyelubungi ku, fikiran tak tentu dan berdoa komat-kamit memohon ketenangan dari sang Khalik . dia datang . tiba2 nafasku sperti menghilang . dia membaca secarik kertas itu. Tersenyum. Aku meleleh. Matanya menerawang mencari dimana gerangan seseorang yang bernama sae puloh itu. Kusibakan Koran.
“ah PUL,,,,hahhahahahha ada ada aja lo ya…”katanya menyeringai karna telah menemukan letak posisiku.
Semenit Aku tertunduk ,tersipu sejuta malu. Tepat ketika aku mendongak, lap kotor terbang bersama secarik kertas tersebut percis menghantam mukaku. Dia yang melemparkannya .
“hahahhahah Jelek lo pul….hahhahahha”, katanya sembari pergi entah kemana.
Hayatku diujung tanduk, cupid si dewa cinta berteriak kasihan de looo, malaikat pencabut nyawa seperti telah siap menerkamku yang sewaktu2 akan bunuh diri. Inailahi
No comments:
Post a Comment